Facebook Punya Markas Pemantau Pilpres, Begini Respons Menkominfo

Jakarta, lamanqu.co – Kementerian Komunikasi dan Informatika belum bisa memastikan apakah akan memanfaatkan Markas Perang Pemantau Pemilu atau Election Security War Room milik Facebook untuk pemilihan umum legislatif dan presiden serta wakil presiden pada 2019.
“Saya belum tahu, karena belum bicara dengan Facebook mengenai implementasi war room di Indonesia,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara di acara Final Southeast Asia Cyber Arena, Jakarta, Minggu malam, 21 Oktober 2018.
Menurut kabar yang beredar, Election Security War Room milik Facebook yang terletak di Menlo Park California, Amerika Serikat, digunakan secara perdana untuk mengawal pemilihan umum di Amerika Serikat dan Brasil.
Namun, Rudiantara meminta kerja sama dari semua platform media sosial, tidak hanya Facebook, untuk turut berpartisipasi mencegah pemanfaatan platform untuk hal-hal negatif.
“Kami minta semuanya untuk berpartisipasi. Bukan hanya pilpres dan pileg saja, karena kita tidak hanya hidup untuk pemilu,” ungkapnya.
Head of Civic Engagement Facebook, Samidh Chakrabarti dikutip dari The Verge, mengatakan, Markas Perang Pemantau Pemilu ini terdapat 24 desk dan 17 layar terpampang untuk 24 karyawan yang bekerja dan memantau konten pemilu.
Menurutnya sebanyak 24 karyawan sehari-hari akan bekerja mendeteksi spam membahayakan dan ujaran kebencian, sampai informasi hoax yang berpotensi mengacaukan pemilih dalam tahapan pemilu. Mereka menggunakan software yang dikustomisasi untuk tujuan deteksi konten negatif.
Sedangkan, karyawan lainnya menggunakan Crowd Tangle, layanan yang diakuisisi Facebook untuk memantau konten viral di platform media sosial lainnya. “Langkah ini untuk mendeteksi artikel yang tren di Facebook, Instagram, Twitter dan Reddit,” jelas Samidh. (viva)