Kisah Pelukis Jalanan Kandas Asmara, Sketsa Wajah Bersikukuh Pada Jalurnya

Palembang, lamanqu.co-Melukis sekedar menyalurkan hobby pada awalnya, namun akhirnya menemukan passion, dengan jalur sketsa wajah dari situ dia beranikan diri nongkrong di taman kebanggaan wong Palembang, Kambang Iwak, Minggu, 24/11/18.

Dengan mengandalkan alat lukis apa adanya, laki laki berperawakan jangkung kulit putih merupakan seorang mahasiswa semester 7 di salah satu PTN kota pempek ini.

Duduk dia bersahaja berdampingan dengan penjual bubur kacang ijo, Jasuke dan pedagang kaki lima lainya ikut ramaikan suasana cari peruntungan tak perduli dia jika sebutan Pelukis jalanan akan tersemat pada dirinya berbanding terbalik dengan sebutan seorang mahasiswa sebuah sandangan kaum intelektualitas bergelut dengan teori ilmu buku serta falsafah.

Bagi Anoy pengamatan objek luar ini lah kehidupan yang nyata itu. Manusia dengan segala persoalan hidupnya acap kali jadi bidikan objek karya nya. Pada bulir ujung pensil nya lah cerita goresan bahasa seni sket berbicara apa adanya.

lamanqu.co tak mau hilang kesempatan konsistensi talenta seni dengan jalur yang berbeda namun rasa kejujuran tetap ada nilai nya.

Mencari tau sisi lain seniman lukis geluti ditengah era yang serbah sophisticated (canggih) masih adakah tempat nya dimata selerah masyarakat untuk gunakan jasa lukis mereka.

Anoy menuturkan semasa kehidupan sekolah SD hinggah SMA dia habiskan di sebuah kampung di Musibanyuasin, ibu nya melarang dan megingatkan kegiatan dan karir lukis tak akan menjamin masa depan.

Dari perkataan sang ibu dia jadikan “warning” pada porsi yang berbeda, satu sisi dia tidak mau kecewakan sang ibu dengan merahasiakan bahwa dia tetap melakoni “gawean” melukis, sisi lain sang ibu sering menanyakan dia selain biaya kuliah dan rumah kos dia tidak pernah minta dikirim buat makan sehari dan keperluan lain.

Satu minggu dapat 2-3 orderan baginya lumayan buat cukupi gaya hidup anak kos.

Jika ditanya kunci jasa lukis wajah yang dia lakoni ini bebernya kepuasan pelanggan. “Maka tantangan yang paling utama adalah angle yang khas dari raut seseorang itu, hal sangat penting”, ucap nya.

” Nah jika mereka puas maka akan kembali ke kita”, tambah Anoy.

Lahir dari seorang ayah petani sawit dan ekonomi keluarga ditopang dengan dagang, untuk ukuran kampung pastinya diatas rata rata jika mampu mengirim sang anak lanjutkan pendidikan tinggi.

Tetap tak lupa daratan apa lagi salah asuhan bagi Anoy tegar mandiri tunjukan pada masa lalu nya di kampung bahwa target nya adalah tetap menggondol gelar sarjana.

Bercerita dia sewaktu SMA kelas 1 SMA kala itu bertepatan dengan hampir habis masa anak kelas 3 di sekolahnya yaitu masa masa UN. Nyali lelakinya tertantang dengan kehebohan anak anak cowok mulai kelas 1 hingga kelas 3 di sekolah nya akan sosok kembang sekolah.

Sebut saja namanya Ana, menjadi central perhatian serta sumber kehebohan sepanjang tahun itu.

Kelas 1 SMA secara seragam celana biru berganti celana abu abu, karakter lukisan ramai dengan tokoh kartun dan superhero Baru lah dia coba beranikan melukis sket wajah untuk pertama kali dengan objek sang bunga sekolah, dan itupun dia lakukan secara diam diam tanpa diketahui sang empunya nama.

Anoy lakukan itu dengan ajian nekat, sejenak dia dapat berhungan sekedar chat massenger dan FB. Bangga hatinya karya anak seusia bau kencur canda nya bisa disimpan oleh kakak kelas yang diperebutkan anak cowok satu sekolah.

Dari situ ketertarikan gambar sket wajah terlahir pada dari diri Anoy. Walaupun kisah kandas nya cinta monyet tetap samar saja tergores disini. (jl)