Seram! Awal Pernikahan Selalu Bertengkar, Ini Cara Atasinya

lamanqu.co – Pernikahan bisa bayangin gak bagi yang masih berstatus lajang? So pasti bisa dong hidup satu rumah dan satu kamar dengan seseorang selama ini didambah dan telah jadi tambatan hati. Gak pake acara apel or janji untuk ketemu di suatu tempat kesimpulanya hidup hanya buat kalian berdua saja mereguk kebahagian bak pangeran dan ratu sering disitir orang pada acara resepsi. Ceritera pasangan yang baru saja melangsungkan akad dari zaman ke zaman begitu begitu saja kronologi dan alur nya. Theme dan conflict masih menyoal chemistry melebur antara pasangan, hal menerima segalah kelebihan dan kekurangan, soal tuntutan ego masing masing serta memposisikan pihak ketiga, terakhir soal menanggalkan semua kebiasaan buruk semasa remaja.
Bukan maksud menceritakan hal yang buruk buruk atau menakutkan atas legal nan alami hubungan Mahluk Adam dan Hawa hanya menyampaikan gambaran kecil akan dihadapi ketika mlangkah ke hubungan lebih serius.

Layaknya akhir dari dongeng pengantar tidur, moment saat puteri menikah dengan pangeran selalu berujung dengan kalimat: and they married happily ever after. Seluruh kerajaan bahagia and this newly-wed couple start their brand new chapter with joyful hearts. Segala kesedihan dan sakit hati yang dulu dialami terhapus saat pernikahan berlangsung. Pembaca dongeng pun ikut berbahagia atas ‘akhir’ cerita ini.

Sayangnya, dongeng-dongeng tersebut nggak menceritakan perjalanan pernikahan mereka, brides. In reality, a lot of tears and pains will occur in marriage. Seorang teman saya pernah berkata bahwa pernikahan adalah sakit hati berulang kali dengan orang yang sama seumur hidup. That would be scary. Tapi, tenang dulu brides, hal itu bisa dicegah dengan membangun ‘pertengkaran yang sehat’ di awal pernikahan. Caranya?

Nyatakan masalah, to the point, in a good way

Dalam banyak kasus, kebiasaan buruk masa pacaran masih suka terbawa hingga ke pernikahan, salah satunya adalah kebiasaan nggak menyelesaikan masalah hingga ke akarnya tapi berharap si pasangan bisa cukup peka untuk mengerti perasaanmu.

Misalnya, tanpa sepengetahuanmu, pasangan kamu menghabiskan uang yang cukup banyak untuk hobi otomotinya yaitu modifikasi kendaraan. Jelas dong kamu bete. Unfortunately, you don’t address this issue in the first place.

Sementara itu, pasangan kamu asyik dengan hobinya setiap weekend. Ini berujung ke berkurangnya quality time kalian di akhir pekan. Nah, karena kamu nggak menyatakan inti masalahnya sejak awal, kamu justru fokus pada efek domino dari masalah tersebut. Kamu mulai mengeluhkan sikapnya yang cuek, mengutamakan hobi, dan berkurangnya quality time kalian.

Sebaiknya kamu menjelaskan dengan baik keberatanmu pada pasangan.Nyatakan bahwa kamu nggak suka kalau dia spend money without you knowing it. Karena, bagaimanapun juga, kalian sudah menjadi pasangan suami-istri dan harus sharing berbagai hal. Karena laki-laki adalah makhluk rasional, jadi kamu perlu mengutarakan alasan-alasan logis atas keberatanmu supaya dia mengerti.

Nggak mempermasalahkan hal sepele

Seberapapun besarnya cinta kamu dan pasangan, both of you are not perfect anyway. Ada banyak kekurangan di dirimu dan pasangan yang perlu dihadapi. Kalau pasanganmu ternyata kurang peka atau nggak ekspresif dan hal-hal ini sering bikin kamu bete, think twice before you get mad at him. Coba tanyakan pada dirimu seberapa prinsipkah kekurangan tersebut untuk menjadi pemicu pertengkaran? Ingat pula berbagai kelebihan dia yang selalu membuat kamu bahagia. Dia mungkin jarang bersikap romantis dan mengucapkan ‘I love you’ ke kamu, but he is a devoted, honest, and responsible husband.

Diskusikan hal prinsip dengan detail

Saat kamu berpacaran dan berniat serius, sebaiknya kamu sudah mendiskusikan hal-hal prinsip dengan detail, misalnya urusan pengelolaan uang. Perlukah menggunakan kartu kredit? Berapa persen alokasi dana emergency? Siapa yang akan membayar cicilan kendaraan dan rumah? Siapa yang akan membayar tagihan bulanan seperti listrik, telepon, air, dan iuran kebersihan? Kamu harus membahas hal sensitif sedetail mungkin, brides. Lebih baik kamu repot di awal kan brides daripada kamu keteteran saat menikah. Tapi jika saat pacaran kamu belum sempat mendiskusikan hal ini, segeralah mendiskusikannya di awal pernikahan ya.

Jangan menghindari konflik

Banyak orang enggan menghadapi konflik karena hal ini tidak nyaman, menguras pikiran, dan pastinya melelahkan. Padahal konflik yang ditangani dengan baik justru bisa mempererat hubungan kamu dan pasangan lho, brides. Saat menghadapi konflik, jauhkan segala distraction di sekelilingmu dan pasangan, seperti suara TV atau HP. Dengarkan pasanganmu, make eye contact. Jika ada hal kurang jelas, tanyakan dengan baik.

Yang terpenting, fokuslah pada masalah, bukan menyerang pasanganmu. Daripada bilang: ‘Kamu tuh posesif banget! Masa sih aku pergi sama teman-teman kantor aja nggak boleh?! Kan nggak tiap hari juga hang out-nya!” cobalah ubah kalimatmu supaya lebih logis dan nggak terdengar menuding, misalnya: “Setiap hari aku ketemu mereka hanya untuk kerja. Tapi ternyata, di luar kantor, mereka teman-teman yang seru banget. Aku bisa belajar banyak hal dari mereka, nggak melulu soal kerjaan. So, I’d be more than happy if you can let me hang out with them once in a while.” Nah, terasa kan brides perbedaan kalimatnya?

Jangan bertengkar di depan keluarga dan teman-teman

Jika kamu bertengkar dengan pasangan, lakukanlah di tempat yang privat. Jangan sampai diketahui oleh teman-teman apalagi keluarga. Kenapa? Setelah kalian menikah, teman-teman dan keluarga tidak punya banyak waktu berinteraksi denganmu dan pasangan. Persepsi mereka atas kepribadian dan relationship kalian hanya sebatas apa yang mereka lihat. Jadi, jika mereka melihat kalian bertengkar, benak mereka akan mulai membentuk kesan tertentu terhadap kalian. Things will get more complicated if they start to give opinions to you and your spouse. Third party’s opinion would distract you and him in making certain decision.

Deal with your family

Jika ada anggota keluarga kamu yang bersikap tidak berkenan atau menyakiti pasanganmu (or his family), segeralah tegur dengan baik keluarga kamu ya, brides. It’s your own responsibility. Dan, sebisa mungkin, mintalah ia untuk meminta maaf pada suami kamu atau keluarganya atas sikapnya yang tidak baik. Dengan cara ini, kamu akan belajar untuk menghormati pasanganmu dan keluarganya serta menyampaikan keberatanmu dengan baik kepada keluargamu.

Jangan sia-siakan pasanganmu

Di tengah kesibukan kerja dan banyaknya tanggung jawab yang harus kamu lakukan bareng pasangan, rasanya sulit untuk terus-menerus bersikap romantis ya brides. Meski demikian, janganlah berhenti untuk mengekspresikan rasa sayangmu melalui hal-hal kecil, misalnya memasak makanan kesukaannya, memijatnya sepulang kantor, atau menonton bersama acara TV kesukaannya.

Meski sulit dilakukan, menjadikan hal-hal ini sebagai kebiasaan akan berdampak besar untuk kelanggengan pernikahanmu di masa mendatang. Yang pasti, pertengkaran di awal pernikahan adalah hal yang tidak terhindarkan. Walaupun demikian, kamu nggak perlu panik atau stres menghadapinya. Ingatlah bahwa kamu memiliki pasangan yang menyayangimu dan dapat diajak bekerja sama. (brides)