Sisi Semantik Sebuah Satire “Kasihan Bangsa” Karya Khalil Gibran

lamanqu.co – Judul diatas mengajak kita semua mengulang pelajaran bahasa Indonesia yang dulu nya menjadi pelajaran favorit kita dari SD hingga Kuliah. Karena bagi mahasiswa sebelum reformasi di PTS menjadi salah satu mata kuliah yang diikutkan dalam Ujian Negara.

Biar tidak salah kaprah akan tulisan ini ada baik nya secara ilmu kita melihat literature review tentang salah satu cabang ilmu bahasa (Linguistics)ini.
Semantik berasal dari bahasa Yunani semantikos, artinya studi tentang makna. Lehrer dalam Pateda (2010:6) mengatakan bahwa semantik adalah studi tentang makna.

Semantik berfokus pada hubungan antara penanda seperti kata, frase, tanda dan simbol. Dalam pengertian umum semantik adalah disiplin ilmu yang menelaah makna satuan lingual, baik makna leksikal maupun makna gramatikal.

Makna leksikal adalah makna unit semantik yang terkecil yang disebut leksem, sedangkan makna gramatikal adalah makna yang terbentuk dari penggabungan satuan-satuan kebahasaan.

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa semantik adalah ilmu yang mengkaji tentang makna yang terkandung di dalam kata atau kelompok kata.

Semantik adalah subdisplin linguistik yang membicarakan makna (Pateda, 2010:7). Objek kajiannya adalah makna. Makna yang menjadi objek semantik dapat dikaji dari banyak segi terutama teori atau aliran yang berada dalam linguistik (Pateda, 2010:65).

Struktur bahasa terdiri atas unsur yang berupa fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana yang membaginya menjadi kajian fonologi, morfologi, sintaksis, dan wacana (Pateda, 2010:66–76 ).
Satire / sa.ti.re / merupakan kata Nomina (kata benda) secara fungsi kata. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBi) Satire adalah;
(1) Istilah sastra gaya bahasa yang dipakai dalam kesusastraan untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang;
(2) sindiran atau ejekan

Lantas siapa Khalil Gibran, tak asing bukan,? Sosok dikenal pluralist suka menghabiskan waktu membaca semua kitab agama di dumia, dia bernama lahir Gibran Khalil Gibran, lahir di dan berkebangsaan Lebanon, 6 Januari 1883 dan meninggal di New York City, Amerika Serikat, 10 April 1931 pada umur 48 tahun. Dia adalah seorang seniman, penyair, dan penulis Lebanon tinggal menetap di Amerika.

Ia lahir di Lebanon (saat itu masuk Provinsi Suriah di Kesultanan Utsmaniyah) dan menghabiskan sebagian besar masa produktifnya di Amerika Serikat. Salah satu karyanya yang sangat tenar adalah sebuah buku yang berjudul The Prophet. Syair di bawah ini berjudul “Kasihan Bangsa” tentu saja bukan bahasa asli nya, menurut cerita Bahasa Aslinya ditulis dalam Bahasa Lebanon Francis dan Arab kemudian baru lah buat dalam Bahasa Inggris dan bahasa negara lain di dunia.

1. Kasihan bangsa yang memakai pakaian yang tidak ditenunnya,
memakan roti dari gandum yang tidak dituainya
dan meminum anggur yang tidak diperasnya
Secara Historical masa hidup sang penyair konteks sejarah dimana pada waktu itu tahun dimana syair dibuat ada yang nama nya go west dan pecah revolusi industri negara negara Eropa dengan dalih berdagang sekaligus mencari daerah jajahan. Di mata sang penyair para petani lebih memilih untuk berdagang dan kerja pada sektor industri dari pada menggarab lahan mereka sendiri. Kata “kasihan’ dalam konteks ini bukan berarti rasa ibah tetapi bermakna ” ayolah perhatikan”. Sedangkan “Bangsa” bukan artinya satu adalah sebuah “Negara” saja tetapi ambigiuitas dalam beirsyair memang syara harus begitu. Lantas Bangsa dalam konteks ini lebih domestik bisa berarti “Mereka” atau “Kita”.
” Anggur, pakaian tenun, dan Roti” merupakan kebutuhan dasar bahan pokok kita, penyair mempertanyakan bagaimana hal hal tersebut diperoleh. Ada pesan religius apakah kita memperoleh kebutuhan itu dengan cara cara benar atau sebalik nya.
Pertanyaan nya adakah refleksi kehidupan masa itu pemikiran serta kejahatan masih tetap hidup pada semua level dan strata? Hemm, cam kan saja! Kita lanjut

2. Kasihan bangsa yang menjadikan orang bodoh menjadi pahlawan,
dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.

Pada bagian ini penulis artikel ini tidak mau ngebahas entar kepleset pembaca tahu sendiri sudah jelas.

3. Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur,
sementara menyerah padanya ketika bangun.

4. Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara
kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan,
tidak sesumbar kecuali di runtuhan,
dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya
sudah berada di antara pedang dan landasan.

5. Kasihan bangsa yang negarawannya serigala,
falsafahnya karung nasi,
dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.

6. Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya
dengan trompet kehormatan namun melepasnya dengan cacian,
hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan trompet lagi.

7. Kasihan bangsa yang orang sucinya dungu
menghitung tahun-tahun berlalu
dan orang kuatnya masih dalam gendongan.

8. Kasihan bangsa yang berpecah-belah,
dan masing-masing mengangap dirinya sebagai satu bangsa

Penulis sebenarnya mau mau saja lanjutkan interpreatasi masing stanza karya Penyair fenomenal ini berhubung sudah larut. Jadi kesimpulan singkatnya Semantik itu ya memang begitu, soal satire diatas apakah mau ngebahas full aspek kehidupan sang penulis pada masanya beserta refleksi nya saat ini. Semogah tidak gagal faham. (jl)