Sebaiknya Yang Menjadi Pemimpin Adalah Laki-Laki

Palembang, LamanQu.co –  “Di dalam ajaran kita umat Islam, sebaiknya yang menjadi pemimpin adalah laki-laki. Begitu pula dalam kesultanan, yang dijadikan pemimpin adalah laki-laki, karena kita menjalankan ajaran Islam, ” ujar Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikromo 4 saat diwawancarai, Kamis (25/7/2019).

Menurut Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikromo 4 , laki-laki lebih baik menjadi pemimpin karena lebih tegas, lebih konsisten dan lebih fokus dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

“Pemikiran laki-laki itu lebih matang dan lebih fokus. Sedangkan wanita diciptakan Allah dengan hati yang lembut, walaupun memiliki kecerdasan yang tinggi, wanita juga cenderung menggunakan perasaan dan hatinya dalam memutuskan sesuatu. Selain itu, emosi wanita juga tidak stabil, ” ucapnya.

Penerus takhta Sultan Palembang Darussalam ini menambahkan, di masa kekinian saat ini muncul emansipasi perempuan. Sehingga perempuan ingin setara seperti laki-laki termasuk dalam memimpin suatu organisasi, partai atau bahkan pemerintahan.

“Kalau dilihat dari sisi emansipasi wanita, memang tidak ada masalah jika wanita ingin menjadi pemimpin, selagi dia memiliki kemampuan yang bagus dan mempuni. Namun dari sisi Islam dan Kesultanan, lebih baik laki-laki yang dijadikan pemimpin. Apalagi, mayoritas umat adalah beragama Islam yang Imam saat Shalat selalu laki laki, perempuan kan gak bisa ngimami laki laki..! Jadi sebaiknya kita menjalankan syariat Islam, ” tegasnya.

Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikromo 4 mengatakan, di dalam Islam Rasulullah Saw tidak menganjurkan memilih wanita sebagai pemimpin. Baik dalam cakupan kekuasaan yang terbatas maupun yang lebih luas. Jika masih ada kaum laki-laki Islam yang sanggup dan dipandang mampu, maka jadikanlah laki-laki sebagai seorang pemimpin

“Saat ini memang ada wanita yang berkeinginan menjadi ketua partai, ketua DPRD, bahkan Kepala Pemerintahan. Itu sah-sah saja di masa emansipasi wanita saat ini, tapi kalau untuk di pemerintahan alangkah baiknya kalau yang memimpin adalah laki-laki,” tambahnya.

Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikromo 4 mengungkapkan, untuk di kursi legislatif, masyarakat masih banyak yang memberikan amanahnya untuk duduk di kursi DPRD kepada laki-laki. Sehingga pola pikir masyarakat saat ini masih memegang nilai-nilai Islami.

Ditanya mengenai tendensi demokratisasi di rumah demokrasi DPR atau DPRD yang cenderung menempatkan ‘Lobbying Skill’ dan Political Lobbying kans perempuan atau laki laki yang mampu berperan lebih disitu.

“Tugas di DPR atau apalagi DPRD itu berat..! Masyarakat kita lebih percaya laki-laki dapat menjalankan tugas itu dengan sebaik-baik nya. Itu dapat dilihat dari parameter, lebih banyak laki-laki yang duduk di kursi DPRD. Ini pertanda, kepercayaan masyarakat kita yang mayoritas Islam kepada pemimpin laki-laki itu masih sangat tinggi,” pungkasnya. (Yanti)