Saya Percaya UKM Bisa Sejahtera….!

Palembang, LamanQu.co – Afandi Mulya Kesuma optimistis pelaku usaha di sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) bisa mewujudkan kesejahteraan. Tak mudah memang, tetapi melalui Forum Sumsel Sejahtera, arah baru perubahan nasib pelaku si “kecil” lebih baik. Pernyataan ini mengemuka ketika berlangsungnya dialog serta diskusi bersama Gabungan Pengusaha Handricraft Makanan (Gapeham) yang membahas tema “Nasib Ekonomi di Masa Mendatang”.

Di dalam diskusi itu, Afandi Mulya Kesuma Ketua Forum Sumsel Sejahtera periode 2019-2024 menyebutkan, kekuatiran sepi order dialami hampir semua sektor UKM. Hanya saja banyak UKM seperti terlena dalam persoalan klasik, entah permodaan, manajemen pemasaran, distribusi, dan segudang persoalan lain. Memang persoalan ini bukan dibuat-buat dan tak mudah keluar darinya.

“Namun, sikap proaktif akan membawa kita pada pemecahan masalah. Cek Kokom telah membuktikannya melalui asosiasi Gapeham,” demikian disampaikan Afandi, Jumat 29 November 2019.

Apakah pengusaha UKM lain bisa meniru langkah yang dicanangkan Gapeham? Afandi menguraikan, adapun persoalan lain yang juga berperan dalam pemberdayaan UKM adalah iklim usaha yang kondusif. Secara sederhana, iklim yang kondusif diartikan sebagai lingkungan yang memberi kemudahan, kepastian, dan keamanan sehingga menawarkan daya tarik bagi UKM untuk berusaha.

“Untuk memenangkan persaingan, setiap pelaku usaha harus kreatif dan mengembangan keunggulan yang dimiliki,” ucapnya.

Sambung Afandi, FSS sedari awal mengemban visi yaitu meningkatkan kontribusi wirausaha terhadap kulitas Sumsel. Sementara, misi ajang FSS ini adalah meningkatkan peranan dan citra UKM dalam pembangunan ekonomi dan iklim yang kompetitif. Memberi inspirasi dan motivasi dalam dunia kewirausahaan, mendapatkan praktik terbaik dalam pengembangan manajamen usaha, serta memberi kontribusi dalam pelaksanaan good corporate govermance.

“Di samping lembaga pemerintah dan swasta diharapkan lebih banyak membantu pemberdayaan pelaku usaha, yang ternyata mampu menjadi katup penyelamat kita di tengah krisis ekonomi. Itu harapan FSS yang sesungguhnya,” ujarnya.

Waktu ke waktu, lanjut Afandi, bahwa penting bagi FSS guna nendesain sebuah kebijakan membantu usaha kecil yang tepat sasaran dan tidak semata-mata berdasarkan sentimen anti terhadap usaha besar.

“Jelas sekali harapan saya FSS dan Gapeham ini memiliki niat yang sama-sama ingin memakmurkan dan mencarikan solusi untuk pelaku usaha. Dan, saya juga ikut mendorong berdirinya Rumah UKM sesuai yang dicita-citakan Gapeham. Bagi saya, apapun latar belakang pelaku usaha handricraft dan makanan, apapun yang mereka pasarkan, yang pasti pelaku usaha itu sudah melakukan hal yang bermanfaat. Yang semula hanyalah coba-coba kini menjadi bagian dari jati diri.

* Kami Ada di Mana-mana…!

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) selalu dirundung kendala klasik, berupa kekurangan dari segi kemampuan manajemen, kualitas sumber daya manusia (SDM), dan ketersediaan modal. Padahal, merekalah penggerak sektor riil mengingat di atas 90 persen pelaku usaha di negeri ini adalah Koperasi dan UKM. Juga mereka pula yang menjadi katup pengaman ekonomi dan penyedia lapangan kerja di saat krisis.

“Haruskah peran mereka habis begitu saja…? Tidak adakah solusi bagi mereka?,” demikian diutarakan oleh Komariah, yang pernah menjadi Ketua Gabungan Pengusaha Handricraft dan Makanan Kota Palembang saat menggelar diskusi dengan Forum Sumsel Sejahtera.

Solusi itu muncul ketika kota Palembang dipercaya menggelar Sea Games 2011 lalu. Dengan pola swamitra yang telah berjalan sembilan tahun, ternyata semua kendala itu bisa teratasi. Pola itulah yang dicanangkan Gapeham dalam membesarkan pelaku usaha di kota ini. Sebagai ‘induk’ dari para pelaku usaha yang ada, Gapeham bahkan bersiap membantu peningkatan kemampuan manajerial dan SDM, serta infrastruktur teknologinya. Begitupun dengan struktur permodalan.

“Awalnya kami ada orang tujuh berdiskusi. Mengapa kita tidak coba untuk berperan di Sea Games itu. Alhamdulillah, kami bermufakat melahirkan perhimpunan pelaku usaha. Ya, karena waktu itu GAM di Aceh jadi isu nasional, kenapa tidak Gapeham saja namanya. Ha….Ha…Ha…,” ucap Cek Kokom.

Gapeham telah dipancang. Itu pertanda bahwa Cek Kokom beserta pengurus lainnya bersegera menperkenalkan asosiasi ke berbagai instansi baik pemerintah maupun swasta. Dia pun terus mengabadikan semangat Gapeham setiap kali ada kegiatan-kegiatan pameran.

“Pertama kali Bu Fikri yang kita percaya untuk jadi ketua Gapeham. Karena ia memang sudah lama berkecimpung dengan usaha songket. Periode selanjutnya barulah dipercayakan ke saya untuk menakhodai Gapeham ini,” Cek Kokom berkisah.

Sambung Cek Kokom, Gapeham yang berkantor di Jalan Letkol Iskandar Nomor 363, RT 17 persisnya depan JM Plaza atau Toko Arifin Hasan A.S selalu berusaha ingin membantu pelaku UKM, bisa menjadi bisnis yang menjanjikan. Ini terbukti pada peningkatan penghasilan masing-masing usaha yang ada. Bukan hanya itu, sektor usaha mikro, kecil dan menengah bahkan terbukti pula memiliki peranan sangat srategis bagi perekonomian. Kenyataan tersebut semakin menyadarkan Gapeham sebagai ujung tombak dari pelaku UKM.

“Kini, Gapeham beranggotakan 400 pelaku usaha di kota Palembang. Mereka tersebar di mana-mana. Kami (Gapeham) juga berperan sebagai penghubung antara UKM dengan pihak lain,” sambung Komariah yang bisa dipanggil Cek Kokom.

Dilanjutkan sarjana ekonomi itu, Gapeham hadir dengan solusi total dan terpadu atas persoalan dan kebutuhan UKM. Ini semua tercermin dari berbagai aktivitasnya, baik berupa bantuan keuangan (finansial assistance), bantuan manajemen (manajerial assistance).

“Pengalaman kita di Gapeham telah membuktikan, membantu usaha rakyat kecil tidak harus merugi. Malahan akan menjadi lahan bisnis yang sangat menjanjikan sepanjang dikelola secara profesional,” kata Cek Kokom.

“Sepi order” menjadi istilah yang menakutkan bagi setiap pengusaha, tak peduli di level atau bidang apa pun. Namun, yang jelas dua kata itu lebih ditakuti oleh pengusaha level menengah ke bawah. Bagaimana tidak, dalam kondisi baru memulai usaha, order tak datang-datang?

Cek Kokom. Perempuan 50 tahun ini. Ia awalnya ibu rumah tangga, kini sudah jadi pengusaha kuliner dan beberapa usaha kreatif lainnya. Memang sepi order itu sempat menghantuinya karena awalnya Cek Kokom membuka kuliner khas Palembang.

Tercetuslah ide untuk mengambil order dari berbagai instansi serta relasi-relasi yang terdekat. Order demi order digelutinya dengan tekun dan penuh semangat. Dan, akhirnya ia dikenal sebagai pemilik usaha dengan nama Toko Arifin Hasan AS yang sukses. Apa yang dilakukan Cek Kokom memang di luar kebiasaan, tetapi itulah yang seharusnya dilakukan setiap pengusaha. Berani keluar dari kebiasaan atau pakem. Keluar dari lingkaran yang akrab dengannya dan mencoba hal baru sambil mengatasi kekurangan.

Istri dari Kgs Arifin Hasan A.S ini mengharapkan, melalui asosiasi serupa Gapeham diharapkan dapat melahirkan figur-figur pelaku UKM yang tangguh dan patut diteladani.

“Di samping itu kami (Gapeham) berkeinginan sekali memiliki sebuah rumah, saya menyebutnya Rumah UKM. Rumah tersebut kita harapkan dapat menampung berbagai produk yang dihasilkan pelaku usaha. Ya, sekaligus ajang untuk mengapresiasi UKM kita,” ujar Cek Kokom yang dikaruniai empat anak yaitu Fitri Wulandari, M Arico, Nurtria Wulandari, dan M Aldy ini. (Rinaldi Syahril Djafar)