Kini, PIM Jadi Kawasan Percontohan

Palembang, LamanQu.co – Pembangunan Pasar Ikan Modern (PIM) Palembang hampir rampung. Pelaksana teknis pembangunan LPJK Sumsel menegaskan PIM Palembang sesuai standar perencanaan baik dari sisi bangunan maupun pengelolaan limbah.

Ir. H. Sastra Suganda Ketua LPJK Sumsel menjelaskan, bahwa PIM Palembang ini dibangun juga berdasarkan kapasitas.

“Nah, saya tak mengerti persoalan antara dinas dengan Komisi III. Saya juga tidak tahu masalahnya di mana. Kita beberapa kali diundang, namun prinsipnya saya akan menjawab selaku pelaksana bangunan tersebut,” ungkap Sastra saat diwawancarai LamanQu.co di ruang kerjanya, Jumat 7 Februari 2020.

Disampaikan Sastra, adapun serah terima PIM Palembang pertengahan September 2019. Sedang di dalam kontrak harusnya dimulai pertengahan Juli.  Tetapi, karena lahan ini memang masih ada bangunan-bangunan di atasnya, dan harus dipindahkan maka memakan waktu sekitar beberapa bulan.

“Saya mulai menguasai lahan sekitar 90 persen sehingga barulah mulai bekerja. Kontrak awalnya enam bulan. Jadi, kalau dari September sampai Desember itu kan cuma tiga bulan. Waktu itu saya selalu katakan sama PPK mengenai aktivitasnya,” ucapnya.

Sambung Sastra, bahwa pembangunan PIM ini bersumber dari APBN. ementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan sumber dananya berasal APBN.

“Saya akan berusaha untuk menyelesaikan pada awal Januari, tapi pada perjalanannya ternyata finishing itu akan memakan waktu, kalau kita memang betul-betul ingin menyelesaikannya dengan rapi maka saya tidak mau terburu-buru karena waktu saya masih panjang,” ungkap Sastra.

Dalam perencanaan pembangunan, lanjut Sastra, untuk limbah sebetulnya kalau dilihat limbah ikan itu bukan limbah yang berbahaya, karena limbah ikan itu secara alami akan terurai oleh alam.

“Jadi kalau saya lihat dari sistem pengolahan air limbah, itu air masuk dari bekas ikan-ikan, masuk ke dalam tangki kemudian masuk ke dalam bak pengelolaan yang sudah tercampur bakteri di sana, aplikasi bakteri. Karena kita lihat sistem yang sangat bagus kasih bakteri sehingga air yang keluar itu tidak tidak mau lagi dan sudah layak menjadi sumber air baku sudah sangat serius,” ujarnya. Tak sampai di situ, Sastra juga menyebutkan.

“Saya hanya mengerjakan sebagaimana mestinya kontraknya, tapi saya lihat rencananya indah dan bagus sekali. Karena bagi saya limbah itu masuk kepengolahan, sebetulnya limbah pasar yang bersifat modern, jadi limbahnya itu tidak terlalu banyak. Tapi tidak tahu nanti kalau menjadi tempatnya itu tempat cuci cuci ikan yang dalam jumlah besar sehingga menghasilkan limbah limbah bekas cucian yang cukup besar tapi kalau itu terjadi masih bisa tertampung. Tapi tangki yang siap menampung air limbah itu dan masing-masing berdiri sendiri,” tambahnya.

Namun,  di sini limbah ikan itu supaya tidak bau yang dikelola ke dalam pengelolaan suatu pengolahan air limbah ada 3 tangki untuk mengolah limbah itu dengan kapasitas 115 kubik limbahnya 15 kubik cukup besar sekali.

“Jadi, sudah kita ujicoba. Masalahnya dengan air biasa kita siram airnya mengalir ke arah sana. Kami yakin nanti pada commissioning dicoba lagi, karena itu harus jalan. Juga harus ada pemeliharaan, karena bakteri setiap enam bulan jangan sampai nanti tidak dimasukkan. Nah, soal limbah, proses limbah itu sudah panjang air yang keluar sudah bagus. Ada sistem dua sisi pakai pompa yang saya sebutkan tadi sebagian masuk. Bahkan, kami sudah mendesain secara gravitasi jadi limbahnya¬† bisa masukkan dalam tanah. Sehingga air yang dari tadi secara gratis masuk kemudian juga air yang keluar itu sejajar dengan kita buat,” katanya.

Sastra mengungkapkan, bagaimanapun PIM Palembang ini termasuk pasar percontohan.

“Harapan kita pasar-pasar tradisional yang lain juga bisa dibuat seperti PIM Palembang ini. Walau sifatnya tradisional, tapi limbahnya kan bisa dikelola melalui pipa. Ada usulan agar ditampung menyiram kembang taman tetapi butuh bak penampung. Proyek ini bahkan dikawal oleh TP4P, Kejaksaan Agung. Ya, artinya ini proyek strategi nasional dari Presiden Jokowi,” diterangkannya. (Yanti)